31 C
Semarang
Wednesday, October 5, 2022

Pengertian Delusi – Penyebab, Kondisi, Jenis dan Pengobatan

Salam Kenal

Artikel Pilihan

Delusi umumnya sering dihubungkan dengan penyakit skizofrenia meski sebenarnya tidak hanya berkutat dalam masalah itu saja. Jika dilihat secara sederhana, delusi adalah suatu keyakinan yang kuat atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan.

Pengertian Delusi

Delusi atau biasa disebut dengan waham merupakan keyakinan yang dipegang kuat akan tetapi tidak akurat. Ini akan terus ada meski bukti sudah memperlihatkan jika hal tersebut tidak punya dasar di dalam realitas.

Di dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan bersifat patologis atau hasil dari penyakit atau proses sakit serta akan tetap terjadi meski ada bukti yang berlawanan.

Sebagai jenis penyakit, delusi berbeda dengan kepercayaan yang berdasar di informasi yang tidak lengkap atau salah, kebodohan, dogma, ilusi, memori buruk atau efek lainnya dari persepsi. Delusi menyudutkan seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang bisa mengacaukan situasi.

Seseorang yang bertindak atas dasar persepsi salah membuat orang tersebut membayangkan respons negatif dari orang lain. Karena itulah, ketika orang tersebut mendapat reaksi seperti yang dibayangkan, maka semakin menguatkan rasa takutnya.

Meski ada bukti yang bertentangan, namun seseorang dengan delusi tidak dapat melepaskan keyakinan yang dimiliki. Delusi sering diperkuat dengan kesalahan interpretasi atau peristiwa.

Penyebab Delusi

Para peneliti belum bisa memastikan dengan tepat tentang penyebab seseorang mengalami delusi. Akan tetapi, sejauh ini ada beberapa kemungkinan yang dianggap sebagai penyebab terjadinya delusi.

Dari mulai faktor biologis, faktor genetik, psikologi serta kondisi lingkungan memiliki peran terhadap terjadinya delusi pada seseorang.

Sebuah penelitian mengatakan jika mereka yang punya keluarga dengan riwayat skizofrenia kemungkinan akan mengalami delusi yang lebih besar. Selain itu, struktur otak juga menjadi salah satu penyebab dari terjadinya kemungkinan delusi yang dialami seseorang.

Ketidak seimbangan neurotransmitter yakni pembawa pesan kimiawi di otak nantinya bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami delusi. Ditambah lagi, stres serta trauma juga bisa memicu terjadinya delusi. Orang yang cenderung terisolasi akan lebih rentan terhadap gangguan delusi ini.

Kondisi Terkait Delusi

Meski delusi selalu dihubungkan dengan skizofrenia, namun ada beberapa kondisi yang juga punya keterikatan dengan delusi seperti berikut ini:

  • Delusional disorder: Seseorang dengan gangguan delusi yang tidak aneh dan umumnya bisa bertindak normal serta tidak mempunyai fungsi yang jelas terganggu.
  • Brief psychotic disorder: Seseorang dengan gangguan psikotik singkat akan mengalami delusi, halusinasi atau ucapan tidak teratur yang bisa dipicu karena peristiwa stres dengan gejala sekitar 1 bulan atau kurang dari itu.
  • Skizofenia: Skizofrenia melibatkan gejala positif seperti delusi atau halusinasi. Ini juga melibatkan gejala negatif seperti kondisi flat yang mempengaruhi, mengurangi perasaan senang dalam kehidupan sehari-hari, kesulitan untuk memulai serta mempertahankan kegiatan serta mengurangi waktu bicara.
  • Schizophreniform disorder: Seseorang dengan gangguan skizofreniform juga bisa mengalami gejala yang serupa dengan skizofrenia selama kurang dari 6 bulan.
  • Schizoaffective disorder Gangguan ini melibatkan gejala skizofrenia dan juga masalah suasana hati seperti mania atau depresi.
  • Delusional symptoms in partner of individual with delusional disorder: Terkadang seseorang bisa berbagi delusi. Ini paling umum ada pada seseorang yang tinggal bersama serta punya sedikit kontak dengan dunia luar.
  • Medication induced psychotic: Keracunan alkohol atau obat bisa menyebabkan beberapa orang mengalami delusi. Gejala yang ditimbulkan umumnya singkat serta cenderung sembuh sesudah obat atau alkohol dibersihkan.
  • Mood disorder: Terkadang, seseorang dengan gangguan bipolar atau depresi bisa mengalami delusi.
  • Pospartum psychosis: Pergeseran hormon yang terjadi sesudah melahirkan bisa memicu Psikosis postpartum untuk beberapa wanita. Beberapa penelitian menunjukkan jika ini berhubungan dengan gangguan bipolar.
  • Dementia: Sekitar 1/3 dari orang dengan demensia mengalami delusi. Biasanya, delusi melibatkan paranoia contohnya seperti berpikir anggota keluarga atau pengasuh yang mencuri sesuatu yang dimiliki.
  • Penyakit Parkinson: Prevalensi sangat bervariasi namun diperkirakan sampai 70% pasien dengan lanjut mengalami delusi serta halusinasi.

Jenis-jenis Delusi

Setiap delusi yang dialami orang akan berbeda-beda. Setidaknya, ada 6 jenis delusi seperti berikut ini:

1. Erotomanic

Penderita gangguan tipe delusi ini percaya jika dirinya disukai atau dicintai oleh orang tertentu. Umumnya, orang yang dianggap mencintai atau menyukai penderita merupakan orang yang penting atau terkenal.

Contohnya seperti seorang pria yang percaya jika seorang aktris mencintainya dan berpikir ia berkomunikasi dengannya lewat gerakan isyarat tangan rahasia pada acara TV-nya.

2. Grandiose atau Delusi Keagungan

Penderita dengan delusi ini biasanya akan merasa punya harga diri, kekuatan atau identitas serta pengetahuan berlebih. Seseorang bisa percaya jika ia punya ketenaran, talenta, kekuatan atau kekayaan yang luar biasa mesi tidak ada bukti sama sekali.

Contohnya seorang wanita percaya jika dewa akan memberinya kekuatan untuk menyelamatkan alam semesta dan akan menyelesaikan tugas tertentu setiap harinya.

Di kasus tertentu, penderita delusi keagungan ini percaya jika ia merupakan orang yang terkenal atau pemimpin dari sekte agama tertentu.

3. Delusi Paranoia atau Persecutory Delusion

Seseorang dengan jenis delusi ini percaya jika ia sedang diamati, diikuti, dibius, difitnah, ditipu dan entah bagaimana difitnah. Penderita delusi paranoia tidak akan percaya pada orang disekitarnya dan selalu merasa cemas serta takut. Terkadang, penderita juga akan mengisolasi dirinya atau sering mengajukan komplain pada pihak berwajib.

4. Delusi Kecemburuan

Penderita delusi kecemburuan percaya jika pasangannya telah berselingkuh serta tidak jujur dengan dirinya. Contohnya seorang pria percaya jika pasangannya bertemu dengan kekasihnya setiap kali ia menggunakan kamar kecil di tempat umum. Pria tersebut juga beranggapan jika pasangannya mengirim pesan rahasia lewat orang lain seperti kasir di rumah makan.

5. Delusi Somatik

Delusi somatik adalah seseorang yang percaya jika ia mengalami sensasi fisik atau fisfungsi pada tubuh di bawah kulit atau menderita kondisi medis umum atau cacat. Contohnya seorang pria yang percaya jika ada parasit hidup yang ada di dalam tubuhnya.

6. Delusi Campuran

Delusi campuran yang dialami seseorang mungkin saja tidak hanya satu jenis namun terdiri dari beberapa jenis lainnya.

Pengobatan Delusi

Pengobatan untuk gangguan delusi biasanya meliputi psikoterapi dan juga pengobatan. Akan tetapi, gangguan delusi ini sangat mudah kambuh jika hanya dirawat dengan obat-obatan saja.

Orang dengan gejala delusi parah dan sampai berisiko melukai diri sendiri atau orang lain kemungkinan harus dirawat di rumah sakit hingga kondisinya kembali stabil. Berikut adalah beberapa jenis pengobatan yang bisa diberikan untuk penderita delusi:

1. Perawatan Psikososial

Perawatan psikososial merupakan salah satu jenis pengobatan utama bagi penderita gangguan delusi. Terapi ini menyediakan lingkungan yang aman untuk pasien dengan tujuan berdiskusi tentang gejala yang dialami sekaligus mendorong sikap serta perilaku yang jauh lebih sehat.

Lewat terapi psikososial, pasien juga bisa belajar untuk mengendalikan gejalanya, mengidentifikasi tanda kekambuhan serta mengembangkan rencana pencegahan kekambuhan. Terapi psikososial ini meliputi:

  • Psikoterapi individu untuk membantu pasien mengenali serta memperbaiki pemikiran yang terdistorsi.
  • Terapi perilaku kognitif atau CBT yang berguna supaya pasien bisa belajar sekaligus mengubah pola pikir serta perilaku yang mengarah ke perasaan yang merugikan diri sendiri.
  • Terapi keluarga supaya keluarga bisa ikut berkontribusi pada penyembuhan pasien.

2. Obat-obatan

Jenis obat-obatan utama yang dipakai untuk mengatasi delusi atau disebut dengan antipsikotik diantaranya adalah:

  • Antipsikotik konvensional: Bekerja dengan cara memblokir reseptor dopamin pada otak yang diyakini berhubungan dengan perkembangan delusi. Contohnya seperti thioridazine dan perphenazine.
  • Antipsikotik atipikal: Bekerja dengan cara menghambat reseptor dopamin serta serotonin di otak.
  • Obat penenang: Bisa dipakai apabila pasien punya tingkat kecemasan tinggi dan susah tidur.
  • Antidepresan: Bisa dipakai untuk mengatasi depresi yang biasanya terjadi pada penderita delusi.

Sumber Referensi

  • https://lifepack.id/jenis-gangguan-delusi-adalah-dan-pilihan-pengobatannya/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Delusi
  • https://www.sehatq.com/artikel/mengenal-6-jenis-delusi
  • https://www.sehatq.com/penyakit/delusional
  • https://www.indopositive.org/2020/04/delusi-pengertian-penyebab-kondisi.html
Salam kenal dari Adam Muiz !
Support mencapai 10K Subscriber yuk
😁 Terimakasih
Follow Adam Muiz on WordPress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending

Artikel Serupa

Download Gratis