Filosofi

Apa Itu Pesimis?

Kenapa Tiba-tiba Bahas Ini??

Jujur, artikel ini lahir dari obrolan iseng sama AI. Entah kenapa topiknya nyasar ke filsafat pesimisme. Dari situ kepikiran: selama ini aku paham pesimis itu orang yang selalu lihat sisi buruk, tapi makin dibahas makin terasa kalau definisi itu terlalu dangkal.

Coba lihat sekeliling. Media sosial, berita, bahkan obrolan warung kopi — semua penuh dengan optimisme yang dipaksakan. Positive vibes only, kata mereka. Tapi kalau dipikir-pikir, apa salahnya melihat sesuatu dengan mata yang tidak dihias?

Maka aku coba menggali. Dan ternyata, dunia pesimisme jauh lebih rumit dari sekadar gelas setengah kosong...

Kierkegaard: Apakah Dia Pesimis?

Salah satu yang menarik perhatianku adalah Søren Kierkegaard. Banyak yang menganggapnya pesimis karena dia bicara tentang sickness unto death — keputusasaan yang membuat seseorang ingin mati, tapi tidak bisa mati. Kedengarannya gelap, bukan?

Tapi setelah membaca lebih dalam, aku justru melihat sisi lain. Kierkegaard bicara tentang leap of faith. Lompatan iman. Menurutku ini menarik: dia sadar hidup itu absurd, penuh kecemasan, dan nggak ada jaminan apa-apa. Tapi solusinya bukan menyerah, melainkan lompat — percaya pada sesuatu yang irasional.

Apakah itu pesimis? Mungkin di permukaan iya. Tapi menurutku dia lebih seperti seorang diagnostician yang jujur: bilang bahwa kondisi manusia itu memang parah, tapi masih ada jalan keluar (walaupun jalannya nggak masuk akal). Itu lebih optimis daripada yang orang kira.

Terus, Apa Sebenarnya Pesimis Itu?

Semakin aku baca, semakin aku sadar: pesimisme itu sulit didefinisikan karena bentuknya berbeda-beda tergantung siapa yang bicara.

Kalau Arthur Schopenhauer bilang, hidup itu pada dasarnya menderita karena the Will — kehendak buta yang terus mendorong kita untuk menginginkan sesuatu, dan begitu dapat, kita bosan lalu menginginkan lagi. Siklus nggak ada habisnya.

Kalau Emil Cioran — yang sering disebut pesimis paling sastrawi — dia bilang: "Only optimists commit suicide." Orang yang bunuh diri itu optimis, karena mereka percaya bahwa mati lebih baik daripada hidup. Pesimis sejati malah nggak punya harapan, termasuk harapan bahwa kematian akan membebaskan mereka.

Tapi yang paling bikin aku mikir adalah Philipp Mainländer. Dia murid Schopenhauer yang membawa ajaran gurunya ke ujung paling ekstrem. Menurutnya, the Will bukan cuma sumber penderitaan — the Will ingin mati. Tuhan mati dengan cara memecahkan diri-Nya menjadi alam semesta, dan eksistensi adalah proses lambat menuju ketiadaan.

Mainländer bunuh diri di usia 34 tahun, tepat setelah karyanya terbit. Tapi yang aneh: dia nggak bunuh diri karena depresi atau sedih. Dia bunuh diri karena yakin filosofinya benar, dan dia ingin konsisten. Ini lucu — pesimis paling ekstrem terlihat optimis karena dia percaya pada sesuatu dan bertindak sesuai keyakinannya.

Paradoks yang Membingungkan

Jadi begini: kita punya spektrum pesimisme yang aneh:

  • Schopenhauer — pesimis, tapi hidup sampai tua dan menikmati musik.
  • Mainländer — lebih pesimis dari Schopenhauer, tapi bunuh diri dengan tenang, kayak orang optimis yang yakin dengan pilihannya.
  • Cioran — pesimis paling sarkastik, tidak bunuh diri, dan menulis indah tentang betapa sia-sianya segalanya.
  • Kierkegaard — didiagnosis putus asa, tapi resepnya adalah iman.

Aneh, ya? Semakin pesimis seseorang, kadang semakin sulit ditebak apakah dia optimis atau tidak.

Mungkin Pesimis Bukan Lawan dari Optimis

Mungkin selama ini kita salah memahami dikotomi optimis-pesimis. Mungkin keduanya bukan dua kutub yang berseberangan, tapi dua sumbu yang berbeda:

  • Optimis naif — percaya semuanya baik-baik saja tanpa alasan.
  • Optimis sadar — tahu bahwa hidup berat, tapi percaya perjuangan berarti.
  • Pesimis naif — mengeluh tanpa pemahaman.
  • Pesimis sadar — menerima realitas pahit, dan dari sana mencari makna dengan caranya sendiri.

Mungkin Nietzsche benar ketika bilang: "He who has a why to live for can bear almost any how." Pesimis sadar punya why — makna yang dia temukan sendiri, meskipun dunia di matanya suram.

Penutup: Tidak Ada Kesimpulan

Sejujurnya, setelah menulis semua ini aku masih belum bisa menjawab: apa itu pesimis?

Mungkin pesimis itu bukan label yang bisa ditempelkan sembarangan. Mungkin pesimis adalah spektrum. Mungkin jawabannya berbeda untuk setiap orang.

Yang aku tahu: setelah membaca Schopenhauer, Cioran, Mainländer, Kierkegaard — aku jadi lebih menghargai orang yang bisa jujur tentang kegelapan, tanpa kehilangan keinginan untuk terus hidup.

Atau seperti kata Cioran lagi: "We are all in the gutter, but some of us are looking at the stars." — Oh, itu Oscar Wilde. Tapi Cioran pasti setuju, bedanya dia akan nambahin: "Dan bintang-bintang itu juga pada akhirnya akan padam." 😄