31 C
Semarang
Monday, September 20, 2021

Pengertian Wayang : Asal Usul, Jenis, Fungsi, Aneka Ragam, Manfaat dan Dalang

Artikel Pilihan

Wayang merupakan salah satu bentuk pementasan tradisional yang dilakukan pencerita. Properti yang dipakai adalah boneka atau sejenisnya sebagai media pada pementasan. Wayang juga memiliki pengertian lain yakni seni pementasan asli Indonesia yang sudah tumbuh di Pulau Jawa serta Bali dengan sangat pesat.

Pengertian Wayang Secara Umum

Wayang merupakan seni pertunjukkan berbentuk drama yang sangat khas. Seni pertunjukkan wayang ini meliputi seni sastra, seni suara, seni musik, seni rupa, seni tutur dan sebagainya.

Ada beberapa pihak yang berpendapat jika wayang tidak hanya sekedar kesenian namun juga mengandung beberapa lambang keramat. Sejak abad ke-19 hingga sekarang, wayang sudah dijadikan pokok bahasan dan dideskripsikan para ahli.

Beberapa pakar dari banyak disiplin ilmu selalu membahas seni pewayangan sebab menjadi sarana yang bisa memberi sumbangsih untuk kehidupan manusia berbangsa, bermasyarakat serta bernegara.

Nilai yang terkandung dalam wayang sudah terbukti bisa dipakai untuk memasyarakatkan banyak pedoman hidup, berbagai acuan norma dan berbagai program pemerintah di seluruh sektor pembangunan.

Pengertian Wayang Menurut Para Ahli

1. Menurut KBBI

Menurut KBBI, wayang merupakan boneka tiruan terbuat dari pahatan kayu atau kulit dan bahan lainnya. Ini digunakan untuk memerankan tokoh di pertunjukkan drama tradisional Jawa, Bali, Sunda dan sebagainya. Biasanya, wayang akan dimainkan oleh dalang.

2. Menurut Dr. G. AJ. Hazzeu

Ia berpendapat jika wayang merupakan pertunjukkan asli yang berasal dari Jawa. Wayang merupakan Walulang inukir yang berarti kulit diukir dan bayangannya dilihat pada kelir.

3. Menurut Supriyo

Supriyo berpendapat jika wayang merupakan salah satu bentuk teater tradisional tertua. Di masa pemerintahan Raja Balitung, pertunjukkan wayang sudah digelar yakni yang ada di prasasti Balitung tahun 907 Masehi yang menceritakan jika ketika itu wayang sudah mulai dikenal.

4. Menurut Sri Mulyono

Ia berpendapat jika wayang merupakan kata dari bahasa Indonesia khususnya Jawa asli yang berarti bayang-bayang. Wayang juga diambil dari akar kata “Yang” dan ditambahkan dengan “wa” sehingga menjadi wayang.

5. Menurut Kusmajadi

Ia berpendapat jika wayang merupakan bayangan orang yang telah meninggal. Penjelasan berikutnya adalah wayang diambil dari suku kata “wa” serta “yang”. Wa merupakan trah yang berarti turunan. Sedangkan yang adalah hyang yang berarti eyang kakek atau leluhur yang telah meninggal.

Asal Usul Wayang

Ada dua pendapat mengenai asal usul dari wayang. Pertama adalah pendapat yang menyatakan jika wayang untuk pertama kalinya lahir di Pulau Jawa, lebih tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ii dipercaya dan dikemukakan para peneliti serta ahli bangsa Indonesia sekaligus sebagai hasil dari penelitian sarjana barat.

Beberapa sarjana Barat diantaranya adalah Brandes, Hazeau, Rentse, Kats serta Kruyt. Alasan mereka mengatakan jika wayang berasal dari Jawa Timur cukup kuat yakni seni wayang sangat berkaitan dengan kondisi sosiokultural serta religi bangsa Indonesia terutama Jawa.

Panakawan atau tokoh terpenting pada pewayangan diantaranya adalah Gareng, Semar, Petruk serta Bagong yang hanya ada di Indonesia. Selain itu, untuk nama serta istilah teknis pewayangan seluruhnya juga berasal dari bahasa Jawa atau Kuna dan bukan dari bahasa lainnya.

Sedangkan pendapat kedua mengatakan jika wayang berasal dari India yang dibawa agama Hindu ke Indonesia. Beberapa ahli yang berpendapat seperti ini diantaranya adalah Poensen, Pischel, Krom, Hidding, Rassers serta Goslings.

Sebagian besar dari kelompok kedua ini merupakan sarjana Inggris dan negara Eropa yang pernah menjajah India. Akan tetapi sejak sekitar tahun 1950, berbagai buku pewayangan seperti sepakat jika wayang bukan berasal dari Pulau Jawa namun juga bukan dari negara lainnya.

Budaya wayang diperkirakan sudah ada di indoensia sekitar zaman pemerintahan Prabu Airlangga yakni Raja Kahuripan pada saat kerajaan di Jawa Timur sedang mengalami kejayaan. Karya sastra menjadi bahan untuk cerita wayang yang telah ditulis para pujangga Indonesia dimulai sejak abad X.

Diantaranya adalah naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin yang menggunakan bahasa Jawa Kuna dan ditulis di pemerintahan Raja Dyah Balitung. Ini merupakan gubahan Kitab Ramayana karangan pujangga India bernama Walmiki.

Kemudian para pujangga Jawa tidak lagi menerjemahkan Ramayana serta Mahabarata ke dalam bahasa Jawa Kuna namun juga menggubah dan menceritakan kembali dengan menambahkan falsafah Jawa didalamnya.

Contohnya seperti karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin yakni gubahan yang berinduk dari Kitab Mahabarata. Kemudian ada juga gubahan lain yang lebih nyata perbedaannya dengan cerita asli versi India yakni Baratayuda Kakawin karya dari Empu Sedah serta Empu Panuluh.

Jenis Wayang

Ada beberapa jenis wayang yang paling terkenal di Indonesia seperti wayang kulit, wayang bambu, wayang golek dan masih banyak lagi. Berikut penjelasan singkat dari jenis-jenis wayang:

1. Wayang Kulit

Salah satu tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa. Tidak hanya pementasan, namun dulu wayang kulit diperankan sebagai alat meditasi yang mengarah ke roh kebatinan para Dewa. Beberapa jenis wayang kulit diantaranya adalah:

  • Wayang madyo.
  • Wayang purwa: Wayang yang sudah dikenal di Indonesia sekitar abad ke-11 di masa pemerintahan Raja Airlangga. Wayang ini memiliki bentuk pipih dan terbuat dari kulit kerbau yang tebal. Wayang purwa juga memiliki lengan serta kaki yang bisa bergerak sehingga lebih menarik ketika dimainkan.
  • Wayang gedok.
  • Wayang kancil.
  • Wayang dapura.
  • Wayang suluh.
  • Wayang calonarang.
  • Wayang kambuh.
  • Wayang kruci.
  • Wayang gambuh.
  • Wayang arja.
  • Wayang beber: Salah satu jenis wayang tertua di Indonesia yang namanya diambil dari cara memainkannya yakni dengan dibentangkan atau dibeberkan.
  • Wayang cupak.
Baca Juga :  Pengertian Antropologi : Konsep Dasar, Tujuan, Ruang Lingkup, Sejarah, dan Teorinya
Baca Juga :  Pengertian Sains : Definisi, Tujuan, Ciri-ciri, Batasan dan Hakikat

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam pembuatan wayang kulit dan berikut penjelasannya:

  • Membuat pola wayang yang dikehendaki yang nantinya disalin ke bahan kulit kerbau yang akan dipakai sebagai wayang.
  • Pola digunakan sebagai pijakan atau ukiran supaya wayang bisa dibentuk perlahan sehingga bentuknya menjadi indah.
  • Sesudah pola disiapkan, wayang akan dijahit kemudian disatukan setiap bagiannya menjadi satu.
  • Proses pewarnaan bisa dilakukan ketika wayang sudah menjadi satu. Pewarnaan dimulai dengan memberi warna dasar sehingga nantinya bisa digunakan oleh dalang.

2. Wayang Bambu

Diciptakan Ki Drajat yang diciptakan dari bambu atau lebih tepatnya dari ranting bambu bagian dalam.

3. Wayang Golek

Seni tradisional dari Sunda menggunakan boneka kayu. Wilayah yang paling terkenal adalah di Pasundan sampai perbatasan Jawa Barat.

Ada banyak jenis wayang golek khususnya untuk bahan yang dipakai serta cerita yang biasa dibawakan. Beberapa jenis wayang golek diantaranya adalah:

  • Langkung: Merupakan wayang golek terbuat dari bambu yang berkembang di daerah jepara. Wayang ini punya nilai filosofi tentang kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal.
  • Thengul: Terinspirasi dari wayang menak di Kudus yang memiliki tujuan hiburan. Cerita yang dibawakan adalah cerita rakyat dan bukan pewayangan.
  • Cepak.
  • Menak: Wayang golek yang biasa dipakai untuk dakwah para wali ketika menyebarkan agama Islam. Seluruh tokong wayang ini berlatarbelakang Arab meski sebagian tokoh memakai pakaian seperti wayang kulit.
  • Timplong.
  • Klithik.
  • Potehi.

4. Wayang Orang

Wayang yang diperankan manusia untuk menjadi aktor pada alkisah sebuah cerita wayang. Wayang ini masih terus ada hingga sekarang seperti di Solo yang digelar sebanyak 1 kali seminggu di Sriwedari.

5. Wayang Gung

Wayang gung merupakan jenis wayang yang berkembang di daerah Banjar, Kalimantan Selatan. Dalam wayang ini lebih banyak bercerita tentang Ramayana namun dengan versi Banjar dan sesuai seperti kebudayaan yang ada.

6. Wayang Topeng

Wayang topeng merupakan kesenian wayang orang di Jawa. Biasanya, wayang ini banyak dipakai untuk acara pertunjukkan dan pernikahan. Untuk pertunjukannya sendiri menceritakan tentang kehidupan yang diiringi musik gamelan.

7. Wayang Klitik

Wayang klitik atau biasa disebut dengan karucil memiliki bentuk yang hampir serupa dengan wayang kulit. Perbedaannya ada di bahan pembuatannya yakni dari kayu. Dalang juga memakai bayangan ketika pementasan wayang klitik ini.

Kata Klitik sendiri diambil dari suara kayu yang terjadi ketika pementasan wayang dilakukan. Umumnya, tema yang diangkat dalam jenis wayang ini adalah tentang Kerajaan Jawa Timur seperti Kerajaan Majapahit, Kerajaan Kediri serta Kerajaan Jenggala.

Salah satu cerita wayang klitik yang paling terkenal adalah Damarwulan. Wayang ini menceritakan kisah yang sangat disukai masyarakat sehingga lebih populer.

Fungsi Wayang

Wayang merupakan gambaran alam pikiran manusia yang dualistik. Terdapat 2 hal yakni pihak atau kelompok yang bertentangan, baik dan buruk, lahir dan batin dan juga halus serta kasar.

Kedua hal tersebut menyatu dengan manusia agar bisa mendapatkan keseimbangan. Wayang juga dijadikan sarana mengendalikan sosial seperti kritik sosial yang disampaikan lewat candaan atau humor.

Fungsi wayang yang lainnya adalah untuk sarana pengukuhan status sosial sebab yang dapat menanggap wayang merupakan orang terpandang serta bisa menyiapkan biaya yang besar. Wayang juga bisa menanamkan solidaritas sosial, sebagai sarana pendidikan sekaligus hiburan.

Isi Kandungan Pada Wayang

Ada beberapa isi kandungan yang ada di dalam wayang dan berikut beberapa diantaranya:

1. Momot Kamot

Wayang merupakan alat pementasan yang berisi segala bentuk kehidupan manusia atau momot kamot. Ide manusia baik yang terikat dengan politik, ideologi, ekonomi, budaya, sosial, hukum dan pertahanan ketenteraman ada di dalam wayang.

2. Berisi Tuntunan, Tatanan Serta Tontonan

Dalam wayang berisi tenang tatanan yaitu sebuah asas berisi tata susila. Asas ini dipahami serta dijadikan petunjuk para seniman pencerita. Saat pementasan wayang berisi tata cara main serta alur pencerita dan cara melakonkan wayang. Ini dilakukan secara tradisi dan bebuyutan yang semakin lama menjadi objek yang dipahami sebagai petunjuk.

3. Teater Total

Pementasan wayang bisa dilihat sebagai pementasan teater total. Yang dimaksud disini adalah menyediakan berbagai bentuk secara menyeluruh. Ada beberapa faktor terpenting pada dramatisasi seperti mimik narasi, dialog antar aktor, kombangan serta kebatinan.

Baca Juga :  Negara Indonesia : Sejarah, Geografi, Geologi, Suku, Agama dan Budaya

Aneka Ragam Wayang

Jika secara umum, banyak orang yang beranggapan jika cerita wayang sangat identik dengan cerita Ramayana atau Mahabarata serta cerita yang berakar dari keduanya. Akan tetapi sebetulnya, masih ada cerita dari sumber lain yang juga dipertunjukkan dalam bentuk seni wayang.

Baca Juga :  Pengertian Fashion : Sejarah, Fungsi, Manfaat, Ciri, Contoh, Perkembangan dan Tipe Gaya

Selain cerita wayang Ramayana serta Mahabarata, masih ada beberapa cerita wayang yang terkenal seperti cerita Menak, cerita Panji serta cerita yang bersumber dari babad. Meski cerita Panji sudah ada sejak jaman Demak, namun baru mulai terkenal meluas di jaman pemerintahan Paku Buwana IV.

Wayang yang bercerita tentang Panji ini lebih dikenal dengan sebutan Wayang Gedog. Tokoh peraga pada Wayang Gedog ini tidak memakai gelung capit urang seperti yang ada dalam Arjuna. Semua rambut dalam cerita tentang Panji ini diurai di punggung dengan latar belakang jaman Jenggala, Ngurawan serta Kediri.

Berdasarkan dari Serat Menak, cerita Menak bersumber dari Kitab Qissai Emr Hamza dari kesusasteraan Persia di jaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid. Di daerah Melayu Riau, kitab tersebut diterjemahkan serta diberi judul “Hikayat Amir Hamzah”.

Di Serat Menak, ada beberapa bagian dari cerita tersebut yang disesuaikan dengan alam Indonesia khususnya nama serta gelar dari beberapa tokohnya. Contohnya seperti tokoh cerita asli yang bernama Badi’ul Zaman diubah menjadi Imam Suwangsa dan Unekir yang diubah menjadi Dewi Adaninggar.

Pengubahan beberapa nama tokoh tersebut bertujuan untuk menyesuaikan dengan pengucapan lidah orang Jawa serta lebih nyaman didengar. Sedangkan cerita Babad yang diambil dari sumber cerita wayang diantaranya adalah Babad Pajang, Babad Demak serta Babad Mataram.

Dari sumber cerita Babad tersebut kemudian dihasilkan beberapa jenis wayang baru seperti Wayang Dupara, Wayang Kuluk, Wayang Jawa dan sebagainya. Akan tetapi untuk beberapa jenis wayang yang didanai pihak Keraton sayangnya tidak bisa dimasyarakatkan.

Selain tontonan dan pergelaran, sejak lama wayang sudah disukai sebagai bentuk karya sastra. Di zaman Kerajaan Jenggala, Kahuripan, Majapahit serta Kediri, karya sastra penggemarnya masih sangat terbatas untuk kalangan kerabat keraton saja.

Akan tetapi dimulai dari Kerajaan Demak, sastra wayang akhirnya mulai diperkenalkan untuk masyarakat luas di luar tembok Keraton. Sesuai jiwa kerakyatan yang dimiliki wali khususnya Sunan Kalijaga, sastra wayang akhirnya mulai dikenal oleh rakyat.

Ini sejalan dengan tujuan para wali khususnya Sunan Kalijaga yang mau memakai media wayang untuk sarana dakwah agama Islam.

Manfaat Wayang

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, manfaat wayang tidak hanya sebagai sarana hiburan namun juga memberikan banyak manfaat lain seperti berikut:

1. Untuk Pendidikan Budi Pekerti Anak

Wayang bisa dijadikan sarana pendidikan budi pekerti luhur yang bagus untuk anak. Ketika dipentaskan, maka ada bentuk ajaran moral lengkap. Ini kemudian dibakukan dalam bentuk piwulang, sanepa serta pituduh untuk kehidupan manusia sehingga bisa hidup dengan damai.

Dengan begitu, wayang bisa dijadikan cerminan falsafah hidup orang Jawa atau ungkapan filsafat Jawa. Pesan moral di masyarakat Jawa disampaikan dengan media seni wayang yang bisa berbentuk ungkapan tradisional mengandung makna pendidikan moral atau biasa disebut dengan adiluhung.

2. Sarana Menumbuhkan Bakat dan Minat Anak

Semua yang dimiliki manusia dinamakan harta kultural yang sudah ada sejak manusia dilahirkan. Harta ini bisa didapat dari pendidikan dalam lingkungan, keluarga serta masyarakat.

Jika bakat serta minat anak digabungkan serta dibantu dengan dorongan orang tua, maka akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan anak. Ini nantinya bisa membuat anak memiliki kemampuan tambahan dan kemampuan khusus dalam bidang lain selain pendidikan formal.

Dalang Wayang Terkenal di Indonesia

Wayang tidak bisa bergerak dengan sendirinya sehingga butuh dalang supaya wayang bisa bergerak serta dimainkan. Dalang sendiri merupakan seseorang yang punya keterampilan khusus untuk memainkan wayang dan berikut beberapadalang terkenal yang ada di Indonesia:

  • Ki Nartosabdo: Dalang wayang kulit yang terkenal dan berasal dari Jawa Tengah. Seni permainan wayang kulit yang ia lakukan sangat menarik untuk dilihat serta luwes.
  • Ki Anom Suroto: Dalang yang dikenal sejak tahun 1968 dari pertunjukkan wayang di Radio Republik Indonesia. Ia adalah dalang yang berhasil memperkenalkan wayang ke negara internasional dengan bermain wayang serta mendalang di 5 benua.
  • Asep Sunandar Sunarya: Dalang yang dikenal karena berhasil menciptakan wayang bernama si Cepot. Keunikan dari wayang ini adalah bagian rahang yang bisa digerakkan dan menembakkan busur panah tanpa bantuan dalang.
  • Ki Manteb Soedharsono: Dalang senior yang dikenal di Indonesia karena lihai memainkan wayang sehingga memiliki nama panggilan Dalang Setan.
Sumber Referensi

https://www.pelajaran.co.id/pengertian-wayang-fungsi-kandungan-dan-jenis-jenis-wayang-lengkap/
https://pakdosen.co.id/wayang-adalah/
https://seputarpengertian.blogspot.com/2017/05/pengertian-wayang-serta-fungsi-dan-jenisnya.html
https://dosensosiologi.com/pengertian-wayang/
https://www.seputarpengetahuan.co.id/2020/10/pengertian-wayang.html
https://www.pintarnesia.com/pengertian-wayang/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending

Artikel Serupa